SELAMAT DATANG!

Welkom! Wellcom!!benvenuto!willkommen!Bienvenue!!
Semua kata diatas berarti SELAMAT DATANG! dari Indonesia.
Semoga kalian-kalian yang mengunjungi blog ini akan merasa nyaman dan nggak pulang pulang kaya Bang Toyib, atau malah kesasar Nyari Alamat Palsu kaya Ayu Ting-Ting,,,,,,,
"DON'T COPAS PLEASE!!! TRY TO BE HONEST GUYS!!"
Semoga betah dan nggak kapok mampirr. :D

Monday, July 23, 2012

Aku suka kamu, selesai part 2 END


Sekarang sudah hari senin pukul 07.00 pagi dan laras sudah menunggu di depan rumah untuk segera berangkat ke kampus. Dia kesal, pertama karena Bisma dan Tia telat, seharusnya mereka sudah datang dari limabelas menit yang lalu, padahal jam masuk Ospek mereka jam 08.00. Lama perjalanan dari rumah Laras ke kampus itu 35 menit kalau tidak macet dan bisa dipastikan mereka akan terjebak macet, jadi pasti lebih lama.

“Aduuh, bisa mati dihukum aku nih” Laras berjalan dari satu sisi teras rumahnya ke sisi lainnya. Dari tadi dia menggerutu kesal, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Laras sekarang lebih bisa menyatakan perasaannya dengan cukup baik. Ibunya yang melihat dari ruang tamu langsung menghampirinya.  


“Kamu berangkat sendiri aja” Ibunya menasehatinya untuk berangkat dengan taksi, tapi Laras menggeleng, dia tidak tahu jalan, itu yang pertama. Dia juga tidak pernah naik taksi karena supirnya selalu menjemput.  

“Lha gimana?”

Alasan kedua adalah, “Aku mau kalo pergi ospek sama Bisma sama Tia, atau sama Ibu aja deh. Ini spesial Bu,  aku mau ditemenin dan ngerasainnya bareng aku. Ya seharusnya sama orang lain, minimal sama Mas muji supir kita” Hari ini secara kebetulan, Mas Muji malah izin tidak masuk sedangkan dua supir yang lain sedang mengantar Bapaknya. Bapak membutuhkan mereka untuk mengangkut barang-barang. Kebetulan sekali!

“Tapi kalau kamu telat gimana? Nggak dimarahin? Ibu kan nggak bisa bawa mobil, nggak tahu jalan juga. Gimana ini? Apa kita naik taksi aja nduk? Tapi kalo panggil taksi ya nunggu lagi” Melihat Ibunya yang malah panik sendiri Laras mencoba menenangkannya

“Ibu, Ibu tenang, ya solusinya Laras berangkat sama Bisma sama Tia,  kalo---”

“Sama Bram aja” ibunya langsung memotong perkataannya, Laras langsung menatap Ibunya tidak percaya.  Berangkat bersama Bram? Kalau itu ditanyakan padanya dua hari yang lalu dan Bisma Tia tidak bisa menjemputnya seperti sekarang, pasti  Laras langsung mengiyakan. Kalau sekarang, rasanya tidak. Laras agak kesal dengan ‘Mas Bram’ karena perlakuan Bram padanya sejak hari Sabtu setelah bertemu dengan duo ondel-ondel itu.  Bram rasanya menjauh atau malah menghindarinya, merahasiakan sesuatu darinya. 

“Lho? Kok mas Bram sih Bu?” Laras sudah bisa protes

Lho lha pie nduk? (terus gimana nak?) Sini tak telepon Masmu” Tanpa menunggu jawaban Laras, Ibunya sudah masuk ke rumah dan duduk di depan meja telepon, kemudian menekan beberapa tombol. “Halo nak Bramastya? Ini Ibu, kamu udah di kampus ya?” Ibunya terdiam menunggu jawaban Bram “Oh, bagus itu, bisa kesini berarti?” Ibunya mengangguk-ngangguk tanda mengerti lalu mengacungkan jempol pada Laras yang berdiri di depannya “Cepetan ya Bram, soalnya nanti Laras telat” Laras hanya bisa menghembuskan napas pasrah, maju kena mundur juga kena. Ditambah lagi sekarang HP Bisma dan Tia malah tidak aktif, sebenarnya mereka di mana. “Mereka kemana sih? Katanya tadi udah beres, udah on the way? Sekarang kok tiba-tiba ilang?” Laras panik sendiri, apa terjadi sesuatu pada Tia dan Bisma? Apa mereka mengalami musibah? amit-amit kecelakaan?

Tinn,, Tinnn

Nduk, Masmu sudah datang ini lho. Kamu katanya ndak mau telat” Ibunya mendatanginya setelah membukakan pintu untuk Bram.

“Iya Bu” Setelah memastikan semua tugas Ospeknya telah lengkap, Laras berjalan terburu-buru menuju halaman depan rumahnya. Di sana sudah ada Bram yang menunggu di samping pintu mobilnya, Laras menahan napas. Bram begitu.. begitu berbeda, Bram adalah seorang laki-laki tampan, semua orang pasti tahu. Tapi ini Bram yang baru selesai mandi, rapi memakai kemeja, dan kemudian dilapisi dengan jas almamater Universitas Bakti Luhur yang berwarna biru tua, ini lebih dari sekedar tampan. Dia begitu,, begitu apa ya? Bahasa lebaynya mungkin, begitu mendebarkan hati.

“Ras, kamu nggak mau telat kan?” Perkataan Bram langsung menyengatnya, dia langsung berlari ke arah Bram yang sudah membuka pintu.

“Makasih” ucapnya seadanya, setelah Bram masuk dan menstarter mobilnya Laras bertanya “Mas Bram kok cepet banget? Emang tadi ada di daerah sini ya?”
Bram tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya, “Aku tadi kebetulan lewat, abis ada urusan kepanitiaan” Laras hanya menjawab ‘ohh’ kemudian sudah sibuk dengan HP-nya, dicobanya untuk menelepon kedua sahabatnya berkali-kali secara bergantian. Tapi tetap saja tidak aktif, dia kemudian menoleh lagi pada Bram yang dengan konsentrasi penuh menyetir.

“Mas Bram?”
Bram menoleh “Ya?”

“Mas, tadi waktu Mas Bram jalan ke rumah aku ada kecelakaan atau rame-rame di jalan nggak?”
Bram mengerut aneh, “Nggak, Ada apa?”

 “Soalnya Bisma sama Tia nggak dateng-dateng terus nggak bisa dihubungi juga, aku tadi juga udah telepon rumah mereka, tapi  mereka sudah berangkat kok.  Aku takut,, jangan-jangan terjadi sesuatu sama mereka”
Bram menghentikan mobilnya di lampu merah, lalu menengok padanya dan mengeryitkan dahi kemudian tersenyum geli “Kamu kok mikirnya aneh-aneh sih Ras? Mungkin mereka malah udah di kampus”

“Masak sih? Mereka udah janjian sama aku kok” Laras masih bingung, dia tidak sadar kalau Bram tidak melewati jalan yang biasa. Dia kan tidak tahu jalan mana saja yang harus dilewati. Nasib buta jalan.

“Iyaaa, kamu tenang aja. Mereka pasti baik-baik aja. Kamu jangan mikir aneh-aneh, siapain diri buat hari ini aja” Laras mengangguk-angguk. Bram tersenyum kecil, dia tahu kalau mereka berdua sudah berada di kampus karena temannya sudah mengamankan mereka di salah satu gedung. Dengan HP nonaktif! Dan Laras memang harus bersiap-siap, “Hari ini akan panjang sayang” Gumamnya liirih.

Dia masih tidak percaya Laras berlaku seperti perempuan zaman Kartini yang sangat menurut. Dia akan mendapatkan jawabannya hari ini!! Harus!

“Mas Bram? Kok kita belum sampai sih? Sekarang udah jam 8 lewat nih” Laras tiba-tiba bertanya,
Bram langsung sadar. “Lho? Yahhhh, kita kelewatan belokan nih Ras. Seharusnya kita belok di tikungan tadi. Gimana nih? Kalau kamu ikut aku muter, kita butuh waktu 20 menitan. Apa kamu turun sini aja? Nanti tinggal lurus aja dari tikungan tadi. Maaf banget ya, aku lupa. Aku nggak pernah lewat sini soalnya” Bram menghentikan mobilnya sekitar 200 M dari tikungan yang dia maksud.

“Nggak apa-apa Mas, aku malah makasih banget mas Bram mau direpotin jemput aku segala. Laras pergi ya mas” Laras dengan cepat langsung keluar tanpa menunggu jawaban Bram. Sekarang sih dia tidak mungkin bisa tepat waktu, tapi paling tidak jangan terlalu parah lah.

Laras berlari-lari kecil, saat Bram melihat Laras sudah agak jauh, dia menelepon temannya. “Eh, bro buruan kesini!” Dia menunggu sebentar lalu ada seorang laki-laki keluar dari semak-semak. Laki-laki itu datang menghampirinya,

“Lama amat sih?” Tanya Bram sambil melepaskan seat belt-nya.  

“Sabar bro, gue tadi abis ngobrol sama tukang tahu goreng di sana. Gue dapet gratis” Kata Toni menunjukkan bungkusan tahu goreng. Bram hanya mendengus kesal, waktunya tidak tepat. Bram langsung keluar dari mobil, Toni menggantikannya.

“Makan aja lo, Laras udah jauh nih.  Awas aja kalo Laras kenapa-napa!!” Bram menepuk bodi mobilnya dan langsung melesat  mengejar Laras.

Toni hanya menggeleng-geleng sambil memasang sabuk pengaman, “Lah, dia sendiri padahal yang mau ngapa-ngapain ceweknya, kenapa takut ceweknya kenapa-kenapa sih? Orang yang mau ngerjain dia yang bingung dia juga” Toni mengelus dashboard mobil Bram. “Ganteng, mari kita menembus hutan rimba”  
★★★

Bram berlari kencang mengejar Laras. Sampai di tikungan dia terus berlari, tapi Laras tidak kelihatan di mana-mana. “Di mana sih Laras?” Dia mengontak Dana, salah satu dari sahabat-sahabat yang membantu misinya saat ini. Tapi bukannya mendapat jawaban, Bram malah semakin kesal. “Sialan! Kenapa di reject sih?” Di tengah kekesalannya dia terus berlari dan akhirnya menemukan Laras. “Shit!! Apa-apaan lagi sih? Gue bilang kan jangan pegang, nggak ngerti artinya ya? Pada nggak belajar bahasa Indonesia kali ya!” Bram sudah akan menghampiri Dana dan Sandi yang mencegat Laras 100 meter dari gerbang kampus, tapi seseorang menariknya.

“Hei!” Ternyata Arian yang menariknya. Wajahnya terlihat sabar. Dia adalah sahabat terdekat Bram. Orang yang bisa mengimbanginya dan sudah dianggap Bram seperti saudaranya sendiri. “Gimana sih? Kok lo malah kesel? Mereka kan menjalankan misinya dengan baik”

“Gue tau, tapi---“

“Nggak ada tapi-tapian, kalo lo nggak siap cemburu seharusnya lo nggak usah buat rencana-rencana ngetes dia segala” Ya, ini adalah satu dari serentetan rencana Bram agar mengetahui the real Laras. Setelah melihat kedua ondel-ondel itu dia langsung memutuskan mengetes Laras seperti rencananya semula.

“Gue siap, tapi kan nggak usah pegang-pegang. Gue bilang takut-takutin aja, nggak megang!” Kekesalan Bram belum hilang, dia menatap Dana, Sandy, dan Laras dengan mata menyipit. Orang biasa akan menganggap pemandangan itu seperti dua orang preman yang sedang mengganggu seorang gadis ayu. Tapi Bram tahu bahwa itu tidak benar, mereka berdua adalah sahabatnya beda jurusan, mereka anak psikologi juga, seperti Laras. Mereka saling kenal ketika Bram menolong mereka saat Ospek dan sekarang mereka membantu Bram. Yah, semacam balas budi.

“Yaudah, kan lo bilang suruh gangguin, biar Laras tambah telat. Dan lo bisa tau gimana Laras kalo diganggu cowok, apa dia bakal galak, genit, takut, atau kayak sekarang, cuek.” Laras terlihat mencoba menghindari dan mengabaikan Dana dan Sandi dengan berjalan lebih cepat. Hal yang memang Laras banget.

“tapi gue---“

“Nggak rela? Yaudah, stop aja rencana lo” Arian memang menolak keputusan yang diambil Bram untuk menguji Laras. Dari cerita-cerita Bram, Arian yakin kalau Laras memang asli baik, bukannya cari muka saja.

“Argghhhh,,” Bram mengusap mukanya resah sambil menggeleng “Nggak bisa, udah telat. Mati ya mati aja”
★★★
Laras terus berjalan cepat, karena dia takut nanti kalau dia berlari dari dua preman ini dia malah dikejar. Dia berdoa dalam hati agar ada yang lewat atau mungkin lebih baik lagi, Bram menyusulnya. Laras berjalan lebih cepat saat melihat gerbang kampusnya. Selamet, selamet!!! Ucapnya dalam hati.

“Eh neng! Kenapa Lari sih? ” Tanpa Laras sadari dia sudah berlari, tapi pastinya kecepatan larinya berbeda jauh dengan preman-preman yang mengejarnya.

“Iya nih, kenapa neng?” Laras tidak peduli malah terus mempercepat larinya, dia tidak memperhatikan jalan malah tersandung dan akan jatuh. Sandi refleks menangkap tangannya dan membantunya bangun.

“Makasih” Laras tersenyum dan refleks mengucapkan terimakasih. Sandi dan Dana langsung terdiam sementara Bram mengumpat, merasa kalau mereka berdua mengambil kesempatan.
Sandi dan Dana masih terdiam sampai Bram dan Arian mendatangi mereka. “Heh!” Mereka langsung tersentak oleh suara Bram, sementara Arian malah terkikik-kikik geli. Niatnya mau menguji malah makan hati. “Kalian kenapa sih?”

“Gila bro! Cewek lo manis banget kalo senyum” Dana tidak bisa membaca situasi langsung nyerocos

“Iya bro, mana baik banget lagi. Masak digangguin dua cowok cakep kayak gue sama Sandi diem aja. Kalo cewek nggak bener pasti langsung godain kita balik.” Mendengar hal itu Bram bukannya senang, tapi kesal. Dia cemburu, itu sudah jelas. Dia pernah mendapatkan senyuman itu dan menurutnya sangat manis, tapi sekarang itu bukan hanya miliknya, Sandi dan Dana sudah pernah melihatnya.

Tanpa mengatakan apapun Bram berlalu, Arian yang sudah tau ini akan terjadi hanya tersenyum lalu berterimakasih pada Sandi dan Dana yang masih bingung dengan reaksi Bram.

Thanks bro
                ★★★
“Gue mau selesai aja deh” Kata Bram saat disusul Arian, Arian hanya geleng-geleng, tadi siapa yang mengatakan akan menuntaskan hari ini? Sekarang ngomongnya sudah beda lagi.
Arian menepuk bahu sahabatnya, “Kayaknya udah nggak mungkin deh bro” Dia menunjuk ke depan, ke arah Laras yang sedang dimarahi oleh Saga, seniornya di psikologi nanti. Berarti Laras sudah masuk ke kandang singanya Ospek. Bram juga meminta tolong Saga untuk mengerjai Laras, tapi Saga sudah memperingatkannya sebelumnya.

“Yakin nih? Lo yakin nyerahin cewek lo ke gue? Gue nggak main-main lho. Lo kenal gue gimana, Jangan sampe nanti lo minta berhenti. Sampe lo mohon-mohon ke gue nanti, nggak bakal gue berhentiin” Waktu mendengar hal itu, Bram tenang-tenang dan setuju saja karena dia berpikir kalau dia tidak begitu menyukai Laras. Dia menyukai Laras, tapi tidak sesuka itu. Tidak sayang, yah mungkin karena mereka dijodohkan. Sayangnya dia menyesal sekarang, dia sayang pada Laras. Takut kalau nanti terjadi apa-apa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pikiran Bram langsung kusut.

“Gue nyesel Ar” Curhatnya pada Arian.

“Udah deh Bram, kan ini juga rencana lo. Nikmatin aja bro!! Udah deh, kita ditunggu panitia yang lain nih, lagian kan kita nggak bisa ngapa-ngapain”

Bram menurut.
★★★
Laras tidak mengerti apakah ini hari sialnya atau memang semua peserta Ospek mengalaminya? Dari tadi pagi setelah keterlambatannya, sepertinya Saga tidak mau melepaskan cengekramannya pada Laras. Tadi dia dihukum berlari di lapangan depan auditorium delapan kali, setelah itu dia disuruh mendata nama-nama dosen dan petugas fakultasnya, lalu dia disuruh membantu petugas dapur untuk membuat teh dan mengantarkannya pada dosen.

Dan pada akhirnya sekarang,,,,,

“Laras Kinanti!!!”

“Duh!!” Itu suara kak Saga. Laras refleks mengangguk

“Apa maksudnya ngangguk doang, emang kamu kira saya ngerti kamu ngangguk begitu. Jawab yang bener!!”

Laras tersentak kaget langsung menjawab “Iii,, iya kak”

“Yang jelas!”

“Iya Kak!”

“Sekarang kamu------“

Laras merasa hari ini akan sangaaaaaattttttttt panjang.
Saatnya pulang, Laras merasa akan pingsan. Dia sekarang harus menunggu semua temannya pulang, baru dia boleh pulang. Rasanya tulang-tulangnya mau patah, tapi dia tidak mengeluh. Laras yang penurut tidak pernah membantah Saga sekalipun. Teman-temannya heran, padahal Laras sudah menjadi pesakitan akut, tapi dia tidak protes atau marah. Saga yang awalnya akan mengampuni Laras langsung terbakar gemas. Saga merasa diejek, seharusnya Laras protes, marah, atau menangis, tapi dia hanya diam dan menurut.

“Laras!” Terdengar panggilan dari samping kirinya. Bram yang tampak khawatir berlari kearahnya dan langsung memeluknya ditengah-tengah mahasiswa yang akan pulang.

Laras sempat terdiam sebentar, sebelum kemudian merasa malu. “Mas Bram” Bisiknya, Bram hanya menjawab dengan mengeratkan pelukannya dan itu membuat Laras semakin malu. Ajaran Ibunya tidak membenarkan ini terjadi, tapi dia juga merasa nyaman dalam pelukan Bram. “Mas?”

“Apa?”

“Lepasin pelukannya bisa? Laras malu” Bram malah berlama-lama memeluknya, mencoba menggoda Laras.

“Maaass!” Bram langsung melepaskan pelukannya dan tertawa terbahak-bahak. Apalagi kalau melihat wajah Laras yang merah.

“Kamu lucu deh, Maafin aku ya. Ayo pulang!” Saat akan menggandeng Laras, terdengar teriakan dari jauh. Saat suara itu semakin kencang, terlihat Bisma dan Tia berlari mendekat. Atau Tia yang berlari sedangkan Bisma menarik-narik Tia agar berhenti.

“Laras!!!” Sampai di depan Laras, Bisma dan Tia mengatur napas mereka.

“Kalian? Kalian ke kampus? Tadi aku tunggu lama banget nggak muncul-muncul”

“Lo!!” Laras tersentak mundur, merasa kalau Tia akan memarahinya. Tapi ternyata tatapan Tia mengarah ke Bram. Tia yang memang jago beladiri langsung menarik kerah kemeja bram. “Banci! Lo cowok macem apa yang bisanya nyiksa cewek lo sendiri?” Laras bingung, ceweknya Bram? Siapa? Dia memandang Bram, tepat saat Bram memandangnya. Bram hanya diam, sementara Bisma masih berusaha menarik Tia untuk tenang, tapi sepertinya sia-sia. Tia lebih kuat.

“Ada apa sih? Tia, Mas Bram?”

“Tanya aja sama Masmu ini!” Tia menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya dari Bram.

“Mas Bram?” Bram masih diam, Laras menghela napas “Apapun masalah kalian berdua, bisa kita bicaraain baik-baik? Aku laper banget sama capek, bisa kita makan di kafe depan?” Laras dengan tenangnya berbalik dan mulai berjalan ke kafe dalam kampus. “Bisma? Ayo!” Bisma yang memang haus karena peristiwa hari ini langsung menyusul Laras. Bram  melepaskan cengkeraman Tia dengan mudah lalu menyusul Laras, menggandeng tangannya.

Tia yang ditinggalkan di belakang berdecak kesal, “Cih! Awas aja lo, nggak bakal bisa gandeng temen gue lagi. Tunggu aja sampe gue cerita”
Setelah pesanan minuman dan makanan ringan mereka datang, Laras membuka suara. “Sekarang kalian boleh bicara, ada apa sebenernya?” tidak ada yang berbicara “Oke, aku tanya Bisma aja, ada apa?” Bisma akan menjawab, tapi dipotong Tia.

“Temen-temen cowok lo yang nyegat gue sama Bisma tadi pagi”
Laras langsung menoleh ke Bram, Bram berkata “Nanti kalau Tia udah selesai cerita aku ceritain” Laras mengangguk.

“Gue sama Bisma udah mau sampe rumah lo, tinggal masuk kompleks aja, tapi ada mobil yang ngadang gue. Gue marah dan langsung keluar dari mobil, mau gue maki tuh orang. Mereka keluar, salah satunya cowok gede, badannya ngalahin kulkas dua pintu. Pas gue mau maki, tiba-tiba mereka meluk gue, gue nggak bisa gerak. Mau teriak tapi pelukannya tambah kenceng, muka gue nyungsep di dadanya” Suara Tia yang awalnya lantang, jadi lirih dan menghilang. Pipinya bersemu merah, Bram tersenyum geli. Dion, memang tinggi besar dan kekar. Jadi dia menugaskannya untuk mengurus Tia yang memang terkenal sebagai cewek kuat.

“Terus Bisma?”

“Ah dia!! Mana bisa ngapa-ngapain? Dia aja kalah dari gue, apalagi cowok-cowok gede begitu. Terus gue disuruh masuk mobil cowok itu, ternyata di dalam mobil itu udah ada dua orang. Gue di tempatin di tengah-tengah mereka. Gue dipisahin sama Bisma. Udah ah, biar Bisma yang cerita, gue malu” Tia langsung meminum jusnya

“Gue nggak sengaja liat cowok lo. Gue nggak yakin sih, kan gue sama Tia belom pernah ketemu langsung.  Tapi gue yakin soalnya ada temennya yang manggil di itu Bramastya. Kan yang namanya aneh begitu pasti jarang yang punya” Bisma mengkeret di te,pat duduknya mendapat tatapan tajam dari Bram. “Terus kami disekap, di gedung apa gue nggak tau, sampe jam 07.30 mepet banget, tapi kami sama-sama nggak dimarahin. Pasti udah disogok sama cowok lo”

Bram tetap tenang, tapi dia tahu kalau Laras kecewa padanya. Laras tidak berkata apapun, menurut Bram itu lebih mengerikan daripada Laras yang mengamuk. “Terus gue pas disekap denger rencananya Bram buat ngerjain lo” Bram mengaduh, sialan! Gue kenapa mati kutu dihadapan krucil-krucil ini sih? Niatnya sudah jelek sih ya, hasilnya juga jelek.

“Ras?” Tia memanggil Laras, sebenarnya Tia tidak tega menyampaikannya pada Laras, tapi dia lebih tidak tega kalau Bram menyakiti sahabatnya itu.  “Lo nggak apa-apa?” Laras mengangguk sambil tersenyum, tapi terlihat senyumnya terpaksa. Bram langsung bertindak, dia memegang tangan Laras, menggenggamnya dan mengelusnya lembut.

“Bisa kita bicara berdua?” Laras hanya mengangguk “Maaf ya Bisma, Tia buat kejadian hari ini. Besok-besok gue ganti deh” Bram dan Laras langsung pergi. Bram membimbing Laras masuk ke mobil.

Brakkkk!!!

“Sialan!! Sok gede banget sih itu anak. Mentang-mentang tuaan dia terus sok kuasa? Gitu? Belom kenal gue dia”

Melihat Tia yang mengamuk, Bisma segera mengontrol “sssttttt,,, sssttt Tia!!! Jangan cari gara-gara. Udah deh, itu urusannya Laras, nanti kalo Laras ada apa-apa baru kita tolong”

“Nggak bisa!!!!” Tia tidak bisa tenang “Gue nanti harus pisahin tuh si Brem sama si Laras”

“Bram Tia! Bukan brem! Lo diem kenapa sih? Ada cowok-cowok yang tadi pagi tuh. Lo mau abis?” Tia langsung diam, melihat ke depan mejanya. Teman-teman Bram yang tadi pagi sudah ada di depannya. Lengkap dengan cowok kulkas dua pintunya.

“Mati gue!” Gumamnya lirih
★★★
Bram selesai menjelaskan pada Laras, antara takut, tapi juga lega. Setidaknya dia tidak memiliki rahasia apapun pada Laras. Dia kan sudah memutuskan untuk memulai semuanya dengan Laras, kali ini dengan benar.  “Kamu marah?”

“Kenapa harus marah?” Tanya Laras anteng, Bram malah menggaruk kepalanya bingung. Laras tidak merasa harus marah. Tapi dia tidak habis pikir alasan yang diungkapkan Bram padanya barusan. Ini semua gara-gara peristiwa di mall itu? Lalu apa salahnya kalau dia benar-benar baik? “Mas maunya sekarang gimana?”

“Hah?”

“Iya, mas sekarang maunya aku gimana, atau kita gimana?”

Ditanya to the point begitu Bram malah bingung, lebih baik kalau Laras marah dan memutuskan sesuatu. Kalau begini kesannya dia kan cowok yang egois dan jahat. Ah tapi biarlah, yang penting dia masih bisa melanjutkan hubungannya dengan Laras.  “Aku mau minta maaf, aku salah” Laras mengangguk, dia cukup terkesan karena Bram mau meninta maaf padanya. Biasanya laki-laki memiliki ego yang tinggi jika berhadapan dengan wanita. “Aku juga mau  kita mulai ini lagi dengan benar”

“Yaudah”

“Hah?” Bram sampai lupa berapa kali dia mengucapkan ‘hah’ untuk hari ini.

“Hahaha,, mas Bram kenapa dari tadi kaget terus sih? Ini kan maunya Mas Bram” Tawa Laras mencairkan suasana, menularkan tawa pada Bram “Tapi sebelum itu aku mau tanya, Mas udah bener-bener percaya kalau aku ini emang asli nurut? Nggak macem-macem?”

“Yakin!!” Cupp!

Sekarang giliran Laras yang kaget karena dicium pipinya
★★★
Dua bulan kemudian
“Yang? Laras?” Bram berjalan masuk ke kamar Laras, hari ini mereka akan makan siang bersama dua keluarga dan Tia dan Bisma.

Pluk!

“Aduh!” Bram berseru keskitan karena ditimpuk majalah yang digulung. Dan pelakunya adalah Tia, sudah jelas. Karena kejadian dua  bulan lalu, Tia masih dendam walaupun menerima keputusan laras yang menerima Bram kembali. Sementara Bisma berdiri tenang di belakangnya, dari Laras Bram mengetahui kalau Bisma takut dikerjai lagi. “Apaan sih Tia?”

“Lo mau macem-macem ya?”

“Pikiran lo kotor mulu, lo kan tau kalo gue mau bangunin pacar gue”

“Cih! Sekarang ngomong pacar, sayang. Dulu aja dikerjain”

“Udah deh, kan udah lewat. Sana-sana, gue mau bangunin pacar gue dulu” Bram mengusir Tia dan Bisma lalu masuk ke kamar Laras.

Melihat Laras yang sedang duduk di meja riasnya membuat Bram berdebar-debar. Laras begitu anggun dengan dress batiknya yang bermodel kimono.

“Kalian ngapain sih? Berantem terus” kata Laras sambil menyemprotkan parfum.

“Kamu ngapain sih? Kok cantik banget”

“Ihh,, mas Bram. Aku serius tau. Tante udah dateng?”

“Udah” Bram langsung memeluk Laras. Menumpukan kepalanya di bahu Laras, kemudian menciumnya.

“Maass.. Udah ah,, "

"Iya udah, ayo ke bawah" Saat berjalan keluar, tiba-tiba Bram menarik tangan Laras yang digenggamnya sehingga Laras berhenti berjalan dan memandangnya bingung. "Aku suka kamu, selesai. jadi apapun yang terjadi sama kita kemarin dan nanti, kamu inget aku suka kamu, selesai! nggak usah mikir yang lain lagi" Laras tersenyum manis dan berjinjit untuk mencium pipi Bram.

"Aku juga suka kamu, selesai!"

END

2 comments:

diwienov said...

aaahhhh, beressss :D
tumben cuma 2 part kak? hehee

Savinka Aries Putri said...

Ini kan sebenernya bukan cerita yang direncanain... nyelip antara Kita? sama Our treasure,, jadi buat yang simpel aja, nanti kalo banyak-banyak dua cerbung yang lain malah nggak selesai,, *ngintip our treasure 3* sedih banget itu cerbung part 3 belom kelar-kelaarrrrrr -_-